Beranda | Artikel
Karakteristik Syubhat Musuh Dakwah
20 jam lalu

Karakteristik Syubhat Musuh Dakwah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 12 Ramadhan 1447 H / 2 Maret 2026 M.

Kajian Tentang Karakteristik Syubhat Musuh Dakwah

Dampak Syubhat terhadap Kepercayaan Masyarakat

Syubhat sengaja dimunculkan untuk menimbulkan keraguan terhadap kebenaran sosok pendakwah serta materi dakwah yang disampaikan. Upaya ini mencakup dua hal utama:

  1. Pembunuhan Karakter: Menghancurkan reputasi dai agar dipandang buruk oleh masyarakat sehingga dakwahnya ditolak.
  2. Mengaburkan Kebenaran: Membuat manusia ragu terhadap isi dakwah sehingga mereka terhalang untuk melihat kebenaran dan enggan menerimanya.

Pihak yang biasanya menjadi pelopor dalam memunculkan syubhat adalah para pemuka kaum. Mereka mengemas syubhat tersebut sedemikian rupa agar terlihat menarik bagi manusia. Hal ini dilakukan dengan terus memperbincangkan dan mengulang-ulang narasi tersebut hingga masyarakat merasa terbiasa.

Metode pengulangan ini bertujuan agar syubhat menjadi sesuatu yang dianggap wajar bagi orang-orang yang polos dari kalangan masyarakat umum. Sesuatu yang awalnya dianggap buruk atau salah, jika terus-menerus diperdengarkan, akan diterima sebagai sebuah kewajaran oleh jiwa manusia.

Orang-orang yang memunculkan syubhat akan terus mengulang-ulang narasi mereka agar masyarakat membenarkannya. Pada akhirnya, kebohongan tersebut dianggap sebagai hakikat yang baku, padahal sejatinya adalah kesesatan. Fenomena ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari; rokok sesuatu yang awalnya dianggap buruk, jika terus-menerus dipromosikan dan diiklankan oleh tokoh ternama atau artis, akan dianggap sebagai hal biasa. Sebaliknya, mereka yang tidak mengikuti tren tersebut justru dianggap kurang pergaulan.

Jika syubhat sudah berakar, mereka akan membelanya mati-matian, memusuhi kebenaran (al-haq), serta memusuhi orang-orang yang membawanya. Hal inilah yang terjadi pada masa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai seruan kaumnya:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr’.” (QS. Nuh[71]: 23).

Syubhat Pertama: Serangan Terhadap Karakter Dai

Syubhat memiliki beberapa jenis, salah satunya berkaitan dengan sosok pendakwah (dai), baik itu para Rasul, Nabi, ulama, maupun pengajar agama. Pihak musuh dakwah akan menyerang pembawa risalah terlebih dahulu agar masyarakat kehilangan kepercayaan.

Hal ini dilakukan kepada Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dengan cara mencela kepribadian, perjalanan hidup, akhlak, hingga melontarkan berbagai tuduhan palsu. Beliau dituduh sebagai orang yang kurang akal, bodoh, sesat, gila, hingga dituduh sebagai pembohong yang mengada-ada.

Tuduhan serupa juga pernah dilontarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka menuduh bahwa Al-Qur’an adalah buatan beliau semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Bahkan mereka mengatakan: ‘Dia (Muhammad) telah membuat-buat Al-Qur’an itu’. Katakanlah: ‘(Kalau demikian), datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Al-Qur’an) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar’.” (QS. Hud[11]: 13).

Tujuan utama dari pelontaran syubhat ini adalah membuat manusia lari menjauh dan tidak lagi menaruh kepercayaan kepada para pengajak kebenaran. Pola ini konsisten terjadi di setiap zaman dan tempat.

Contoh Syubhat pada Kaum Nabi Nuh

Salah satu contoh nyata mengenai hal ini terdapat dalam kisah kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam yang diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 60 sampai 63. 

Kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memberikan pelajaran tentang upaya pembunuhan karakter yang dilakukan oleh para pemuka kaumnya (al-mala’). Mereka melontarkan tuduhan keji bahwa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berada dalam kesesatan yang nyata, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al-A’raf[7]: 60).

Padahal, merekalah yang sebenarnya berada dalam kesesatan. Pola tuduhan ini serupa dengan perilaku Firaun yang menuduh Nabi Musa ‘Alaihis Salam sebagai pemimpin para tukang sihir setelah melihat kebenaran mukjizatnya.

Meskipun dicela, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menjawab dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Beliau menyapa mereka dengan panggilan “wahai kaumku”, sebuah ungkapan yang menunjukkan kepedulian seorang pendakwah kepada umatnya. Beliau tidak membalas dengan cacian atau kata-kata kasar, melainkan memberikan pernyataan yang tegas mengenai jati dirinya:

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Nuh menjawab: ‘Wahai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat kepadamu; dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al-A’raf[7]: 61-62).

Hakikat Dakwah adalah Menyampaikan Risalah

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam juga menyatakan keheranannya atas sikap kaumnya yang menganggap aneh kedatangan peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui perantara seorang laki-laki dari kalangan mereka sendiri. Tujuan peringatan tersebut semata-mata agar mereka bertakwa dan mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Walaupun dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam disampaikan dengan cara yang sangat baik, jumlah pengikut beliau tidaklah banyak, bahkan tidak sampai seratus orang selama ratusan tahun berdakwah. Hal ini menjadi pengingat bahwa inti dari dakwah adalah menyampaikan tauhid dan risalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan sekadar mencari popularitas atau membuat orang senang dengan cara-cara yang dilarang agama. Seorang pendakwah tidak perlu mengarang metode yang menyimpang demi menarik perhatian massa. Fokus utama dakwah adalah mengajak manusia kembali ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana perintah-Nya:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl[16]: 125).

Tugas seorang Rasul maupun dai adalah menyampaikan risalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika dakwah tersebut diterima, hal itu merupakan kesyukuran, namun jika ditolak, maka harus dihadapi dengan kesabaran. 

Kisah Nabi Hud dan Kaum ‘Ad

Pola penolakan ini terlihat jelas dalam kisah kaum ‘Ad dan kaum Quraisy yang menggunakan syubhat untuk menjatuhkan kehormatan para utusan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Hud ‘Alaihis Salam kepada kaum ‘Ad. Beliau menyerukan agar mereka hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertakwa kepada-Nya karena tidak ada Tuhan selain Dia. Namun, para pemuka kaum yang kafir justru melontarkan tuduhan keji dengan menyebut Nabi Hud sebagai orang yang kurang akal (safahah) dan seorang pendusta.

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu dalam kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta’.” (QS. Al-A’raf[7]: 66)

Nabi Hud ‘Alaihis Salam menjawab tuduhan tersebut dengan tenang dan penuh adab.

 قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلٰكِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ۝ أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

“Wahai kaumku, tidak ada padaku kebodohan sedikitpun, tetapi aku adalah Rasul dari Rabb semesta alam. Aku menyampaikan kepadamu risalah-risalah Rabbku dan aku adalah penasihat yang terpercaya bagimu.” (QS. Al-A’raf[7]: 67-68)

Beliau juga mengingatkan kaum ‘Ad tentang nikmat kekuatan fisik dan kekuasaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan sebagai pengganti setelah kaum Nabi Nuh.

اذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kamu dalam penciptaan tubuhmu. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf[7]: 69).

Syubhat yang dilemparkan kaum ‘Ad bertujuan untuk membunuh karakter Nabi Hud agar masyarakat memandang beliau tidak waras sehingga dakwahnya tidak perlu didengar. Pola ini merupakan cara kejam yang digunakan oleh orang-orang sesat sejak dahulu hingga sekarang.

Penolakan Kaum Quraisy terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Pola yang sama juga dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kaum Quraisy merasa heran ketika datang seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri. Meskipun mereka mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah berdusta seumur hidupnya, mereka tetap melontarkan tuduhan sebagai tukang sihir dan pendusta.

وَعَجِبُوا أَن جَاءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: ‘Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta’.” (QS. Sad[38]: 4).

Kaum Quraisy bahkan berdiskusi untuk mencari tuduhan yang paling tepat guna menjatuhkan reputasi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka akhirnya memilih sebutan “tukang sihir” karena dakwah Islam dianggap mampu memisahkan anggota keluarga antara yang masuk Islam dan yang tetap dalam kekafiran. 

Tuduhan sebagai tukang sihir (sahir) dan pendusta sengaja dilekatkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memecah belah kepercayaan masyarakat. Padahal, beliau tidak pernah berbohong sedikit pun. Hal ini diakui sendiri oleh kaum Quraisy ketika beliau berdiri di Bukit Shafa untuk memulai dakwah secara terang-terangan. Saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggil kabilah-kabilah Quraisy dan bertanya mengenai kejujurannya:

أَرَأَيْتُكُمْ لَوْ أَنِّي أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟

“Apa pendapat kalian jika aku kabarkan bahwa ada pasukan berkuda di balik lembah ini yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan membenarkanku?” (HR. Bukhari).

Mereka menjawab dengan tegas bahwa mereka tidak pernah mendapati beliau berdusta sedikit pun:

مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا قَطُّ

“Kami tidak pernah menjumpaimu berdusta sama sekali.” (HR. Bukhari).

Masyarakat Quraisy sangat memercayai beliau hingga sering menitipkan barang-barang berharga kepadanya. Bahkan saat hendak hijrah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memastikan semua barang titipan tersebut dikembalikan kepada pemiliknya. Kejujuran inilah yang membuat beliau dijuluki Al-Amin (yang terpercaya). Namun, ketika beliau mengajak pada kalimat Laa ilaha illallah, Abu Lahab justru mencela dan berkata, “Celakalah engkau wahai Muhammad, apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?” Atas peristiwa tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya dalam Surah Al-Lahab yang menjadi salah satu mukjizat Al-Qur’an.

Syubhat Kedua: Syubhat Terhadap Materi Dakwah

Setelah upaya pembunuhan karakter terhadap pendakwah (dai) dilakukan, jenis syubhat kedua diarahkan pada materi atau isi dakwah. Musuh-musuh dakwah berusaha menyikat dan menghabisi pesan kebenaran dengan berbagai tuduhan. Materi dakwah dituduh sebagai perkara baru (ibtid) yang keluar dari kebiasaan, akidah, dan aturan yang diwariskan oleh nenek moyang.

Tujuan dari tuduhan ini adalah membuat manusia lari (tanfir) dari dakwah ilallah dan menghalangi mereka dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun isi dakwah tersebut adalah tauhid yang murni, mereka sering kali melabelinya sebagai ajaran yang memecah belah umat atau sesuatu yang tidak lazim. Penolakan berdasarkan tradisi nenek moyang ini diabadikan dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَن يَصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُكُمْ وَقَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ مُّفْتَرًى

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: ‘Orang ini tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalang-halangi kamu dari apa yang disembah oleh nenek moyangmu’, dan mereka berkata: ‘(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kedustaan yang diada-adakan saja’.” (QS. Saba[34]: 43).

Syubhat sengaja diembuskan untuk menimbulkan keraguan terhadap isi dakwah. Materi yang murni bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dituduh sebagai kedustaan yang diada-adakan atau sekadar karangan manusia. Ketika kebenaran itu datang, orang-orang kafir justru melabelinya sebagai sihir, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan orang-orang yang kafir berkata terhadap kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata’.” (QS. Saba[34]: 43)

وَمَاۤ اٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ كُتُبٍ يَّدْرُسُوْنَهَا وَمَاۤ اَرْسَلْنَاۤ اِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَّذِيْرٍ 

“Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka Kitab-Kitab yang mereka baca dan Kami tidak pernah mengutus seorang pemberi peringatan kepada mereka sebelum engkau (Muhammad).” (QS Saba’ [34] : 44)

Meskipun mereka belum pernah menerima kitab pelajaran atau pemberi peringatan sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka tetap mendustakannya. Padahal, orang-orang terdahulu yang memiliki nikmat jauh lebih hebat pun binasa ketika mendustakan para Rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ كُتُبٍ يَّدْرُسُوْنَهَا وَمَاۤ اَرْسَلْنَاۤ اِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَّذِيْرٍ

“Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sedang orang-orang (kafir Mekah) itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orang-orang terdahulu itu namun mereka mendustakan para rasul-Ku. Maka (lihatlah) bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.” (QS. Saba[34]: 45)

Syubhat Ketiga: Syubhat yang Berkaitan dengan Objek Dakwah (Mad’u)

Jenis syubhat ketiga berkaitan dengan orang-orang yang didakwahi (mad’u). Para penentang dakwah sering kali menampakkan diri seolah-olah mereka adalah pejuang kemaslahatan agama nenek moyang dan penjaga kenyamanan hidup masyarakat. Tujuannya adalah membangkitkan semangat manusia untuk melawan dakwah ilallah.

Dalam kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, para pemuka kaumnya berusaha menghasut masyarakat dengan mengatakan bahwa Nabi Nuh hanyalah manusia biasa yang ingin mencari kelebihan atau kekuasaan di atas mereka. Mereka berdalih bahwa jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki, niscaya Dia akan menurunkan malaikat sebagai utusan.

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menurunkan malaikat; kami tidak pernah mendengar (seruan) seperti ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 24).

Kekhawatiran Firaun terhadap Dakwah Nabi Musa

Pola yang sama digunakan oleh kaum Firaun terhadap Nabi Musa dan Nabi Harun ‘Alaihimas salam. Mereka menuduh kedatangan para nabi tersebut hanya untuk memalingkan masyarakat dari tradisi nenek moyang demi meraih kekuasaan di muka bumi.

قَا لُـوْۤا اَجِئْتَـنَا لِتَلْفِتَـنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا وَتَكُوْنَ لَكُمَا الْكِبْرِيَآءُ فِى الْاَ رْضِ ۗ وَمَا نَحْنُ لَـكُمَا بِمُؤْمِنِيْنَ

“Mereka berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa (kepercayaan) yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya (menyembah berhala) dan agar kamu berdua mempunyai kekuasaan di Bumi (negeri Mesir)? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.” (QS. Yunus[10]: 78)

Firaun bahkan menggunakan narasi perlindungan agama untuk menghasut rakyatnya agar memusuhi Nabi Musa ‘Alaihis Salam. Ia memposisikan dirinya sebagai penjaga stabilitas dan menuduh Nabi Musa sebagai perusak.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

“Dan berkatalah Firaun (kepada pembesar-pembesarnya): ‘Biarlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi’.” (QS. Ghafir[40]: 26).

Ironisnya, Firaun Lah pelaku kerusakan yang sebenarnya karena ia membunuh bayi-bayi laki-laki dan mengaku sebagai tuhan. Namun, dengan kelicikannya, ia tetap membela agama yang buruk dan menyesatkan tersebut demi mempertahankan posisinya. 

Firaun berusaha menghasut kaumnya dengan menyatakan kekhawatiran bahwa Nabi Musa ‘Alaihis Salam akan mengubah agama mereka. Padahal, agama yang dijalankan Firaun sangat buruk karena ia mengaku sebagai tuhan. Firaun menampakkan diri seolah-olah menjadi pembela rakyat, namun tindakannya ibarat pencuri yang berteriak pencuri untuk menutupi kesalahannya sendiri dan menuduh orang lain sebagai perusak di muka bumi.

Tipu Daya Kekafiran dan Hakikat Infaq

Kekafiran merupakan satu kesatuan yang polanya tetap sama di setiap zaman dan tempat. Sejak masa kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam hingga saat ini, orang-orang kafir senantiasa mengeluarkan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan terus menginfakkan harta itu, kemudian harta itu akan menjadi penyesalan bagi mereka, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanam Lah orang-orang kafir itu dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal[8]: 36).

Perbedaan Makna Infaq dan Sedekah

Secara istilah, kata “infaq” bersifat netral dan dapat digunakan untuk tujuan kebaikan maupun keburukan. Seseorang dapat berinfaq di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun orang kafir pun melakukan infaq untuk jalan setan. Berbeda halnya dengan kata “sedekah” yang hanya digunakan untuk konteks kebaikan dan tidak digunakan untuk kemaksiatan.

Dalam literatur fiqih, sedekah terbagi menjadi dua jenis:

  1. Sedekah Wajib: Merujuk pada zakat mal.
  2. Sedekah Sunnah: Merujuk pada pemberian sukarela (mustahabbah).

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, istilah sedekah sering digunakan untuk merujuk pada zakat wajib. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an mengenai delapan golongan yang berhak menerima zakat:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah[9]: 60).

Ayat tersebut menggunakan kata “sedekah” untuk menjelaskan distribusi zakat mal kepada delapan asnaf. 

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, istilah zakat dan sedekah sama-sama populer digunakan. Sedekah yang bersifat wajib merujuk pada zakat, sedangkan sedekah sunnah bersifat bebas. Sedekah sunnah tidak terikat oleh aturan nisab (batas minimum harta) maupun haul (masa kepemilikan satu tahun). Persentase yang dikeluarkan pun tidak dibatasi, sehingga seseorang diperbolehkan menyedekahkan sebagian besar penghasilannya, baik 50%, 20%, maupun 1% saja.

Berbeda dengan sedekah sunnah, zakat memiliki aturan yang ketat dalam Islam. Besaran zakat tidak hanya 2,5%, melainkan terdapat variasi sesuai jenis hartanya. Sebagai contoh, zakat pertanian yang pengairannya mengandalkan air hujan atau tadah hujan adalah sebesar 10%. Adapun jika pengairannya diusahakan sendiri oleh petani, maka zakatnya sebesar 5%. Selain zakat mal, terdapat pula zakat fitrah atau zakatul fitri di penghujung Ramadhan yang berfungsi menyempurnakan ibadah puasa dan menutup kekurangan-kekurangannya. 

Hakikat Dakwah Ilallah

Tugas utama seorang dai adalah mengajak manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (ad-da’wah ilallah). Dakwah tidak boleh bertujuan untuk mengajak manusia kepada fanatisme pribadi, mengikuti syekh tertentu, partai politik, maupun organisasi tertentu. Seorang dai harus ikhlas dan menanamkan pemahaman tauhid sehingga umat memiliki kemandirian dalam beragama.

Dakwah yang benar tidak menuntut pengikut untuk selalu membuntuti pendakwahnya secara berlebihan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan teladan dalam kesederhanaan. Ketika beliau berada di masjid, orang asing yang datang bahkan tidak dapat membedakan mana Rasulullah dan mana para sahabat karena pakaian dan penampilan beliau yang setara dengan yang lain. Beliau tidak menonjolkan diri dengan atribut yang berlebihan atau pengawalan yang mencolok.

Kesabaran dan Keteguhan dalam Berdakwah

Jika dakwah diterima, hal tersebut adalah kesyukuran; namun jika ditolak, maka dai harus bersabar. Pendakwah tidak boleh tergesa-gesa ingin melihat hasil atau merasa stres ketika orang lain belum menerima dakwahnya. 

Seorang dai sering kali merasa tidak sabar ketika mengajak orang lain kepada kebaikan namun belum melihat perubahan yang nyata. Perubahan tersebut tidak dapat terjadi secara instan dalam waktu sekejap. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan teladan luar biasa saat berdakwah ke Thaif. Meskipun beliau dilempari batu hingga berdarah-darah, beliau sama sekali tidak menaruh dendam.

Bagi manusia biasa, perlakuan kasar tersebut mungkin akan memancing amarah atau keinginan untuk membalas dengan kekuatan. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam justru menolak tawaran malaikat penjaga gunung yang siap menimpakan gunung kepada penduduk Thaif. Beliau justru mendoakan kebaikan bagi mereka dengan harapan muncul keturunan yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Keteladanan ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Pelajaran besar dari dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah tidak berputus asa dan tidak tergesa-gesa dalam mengharapkan hasil.

Dakwah Nabi Nuh dan Hakikat Hidayah

Ketabahan dalam berdakwah juga tercermin dalam kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Beliau mendakwahi kaumnya selama 950 tahun, sebuah durasi yang sangat lama dibandingkan dengan kesabaran manusia pada umumnya yang sering merasa lelah hanya dalam hitungan hari atau tahun. Meskipun berdakwah dalam waktu yang sangat lama, pengikut beliau tetaplah sedikit. Hal ini membuktikan bahwa kewajiban seorang utusan hanyalah menyampaikan, sedangkan hidayah sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash[28]: 56)

Sering kali seseorang merasa sangat ingin anggota keluarganya memahami agama dan mengenal sunnah, namun hidayah tersebut belum kunjung datang. Dalam kondisi seperti ini, dakwah harus tetap dijalankan dengan penuh kesabaran. Hidayah adalah sesuatu yang sangat mahal dan tidak bisa dipaksakan oleh manusia.

Nilai Iman yang Tak Terhingga

Iman memiliki harga yang sangat tinggi dan tidak dapat ditukar dengan materi apa pun di dunia ini. Seseorang yang meninggal dalam keadaan kafir tidak akan dapat menebus dirinya meskipun dengan emas sepenuh bumi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ

“Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima tebusan dari seseorang di antara mereka (meskipun berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya.” (QS. Ali Imran[3]: 91)

Menyadari mahalnya nilai iman dan hidayah ini seharusnya membuat setiap muslim lebih menghargai ilmu agama. Oleh-oleh terbaik yang dapat dibawa pulang dari sebuah majelis bukanlah benda materi, melainkan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Jika harga emas per gram atau per kilogram saja sudah bernilai jutaan hingga milyaran rupiah, maka emas sebesar bumi tentu tidak terhitung nilainya. Namun, bagi Allah ‘Azza wa Jalla, seluruh emas tersebut tetap tidak akan diterima sebagai tebusan bagi mereka yang kehilangan iman. Keimanan adalah harta yang paling berharga, bahkan lebih mahal daripada kekayaan duniawi.

Oleh karena itu, setiap muslim harus menjaga keimanannya agar tidak goyah hanya karena iming-iming materi kecil, seperti bantuan makanan atau kendaraan. Dunia dan segala isinya tidak ada harganya dibandingkan dengan nikmat Islam. Hal ini merupakan dasar bagi seseorang untuk masuk ke dalam surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran[3]: 102)

Hakikat Hidayah dan Tugas Mengajak Kebaikan

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam telah memberikan teladan dalam berdakwah selama 950 tahun, namun hidayah tetap berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tugas seorang Rasul maupun para dai hanyalah menyampaikan risalah, bukan memaksa manusia untuk beriman. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki, tentu seluruh penduduk bumi akan beriman, namun Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kebebasan dan ujian kepada setiap jiwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ 

“Dan jika Rabbmu menghendaki, niscaya berimanlah semua orang yang ada di bumi semuanya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (QS. Yunus[10]: 99).

وَمَا كَا نَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ

“Dan tidak seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak berakal.” (QS Yunus[10] : 100)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Karakteristik Syubhat dalam Menghadapi Dakwah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56110-karakteristik-syubhat-musuh-dakwah/